Ada sebuah fenomena menarik yang saya perhatikan pada beberapa komunitas pengusaha.
Pada komunitas itu selalu terdapat dua golongan yaitu;
- pengusaha yang sukses, dengan omset sekian dan sekian, serta
- pengusaha yang sudah bekerja sekian lama, dan masih berjuang untuk sukses.
Saya bertanya pada diri saya sendiri, mengapa demikian?
Dan saya menemukan ini.
Kompetensi Bisnis
Para pengusaha sukses ternyata sangat mengerti bagaimana caranya menjalankan bisnis, sedangkan para pengusaha yang berjuang untuk sukses tahu hanya sedikit cara menjalankan bisnis.
Jadi, jawabannya ada di pengusaaan bisnis atau meminjam istilah pak Heppy Trenggono, ada di kompetensi.
Jangan Gila Menjadi Pengusaha
Beberapa bulan yang lalu, saya menerima karyawan baru yang benar-benar baru lulus sekolah. Karena saya melatih mereka langsung, saya menemukan beberapa hal menarik.
Pada awal-awal bekerja, mereka sama sekali tidak tahu banyak hal. Bahkan, karyawan baru saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan istilah surat jalan, faktur penjualan, aging piutang. Kita belum bicara mengenai neraca, laporan rugi laba, laporan arus kas serta bagaimana cara menetapkan target pasar, cara memasarkan, cara menjual, cara memimpin dan mengelola perusahaan dan sebagainya.
Dalam hati saya berkata, oh my God, apa yang terjadi jika mereka lulus sekolah dan langsung menjadi pengusaha, apa kira-kira yang akan terjadi pada mereka?
Beberapa pertanyaan lain segera berkecamuk dalam pikiran saya;
Apakah mereka akan selamanya menjadi pengusaha gurem yang sulit berkembang karena terbatasnya kompetensi? Inikah yang dinamakah cara gila menjadi pengusaha? Bukankah terbatasnya kemampuan akan membuat mereka benar-benar menjadi gila?
Fenomena-fenomena diatas semakin memperkuat motivasi saya untuk berbagi dalam buku, “Jadi, Anda ingin Menjadi Pengusaha (JAIMP).”
Jadi, Anda Ingin Menjadi Pengusaha?
Saya memperhatikan bahwa hampir semua konglomerat mendorong anaknya untuk bekerja pada orang lain sebelum akhirnya para putra dan putri mahkota kembali ke kerajaan untuk memegang tampuk kekuasaan.
Jika saja para konglomerat mendorong anaknya untuk bekerja (baca; belajar) pada orang lain, mengapa kita harus langsung terjun menjadi pengusaha?
Buku “Jadi, Anda ingin Menjadi Pengusaha”, menganjurkan seseorang yang ingin menjadi entrepreneur untuk bekerja dulu dengan orang lain, untuk menjadi intrapreneur dulu, sebelum akhirnya menjadi entrepreneur.
Buku ini menganjurkan seseorang untuk tidak terburu-buru menjadi pengusaha, melainkan untuk belajar (bekerja) selama 1000 hari, untuk mendapatkan ilmu dan kompetensi yang ia butuhkan.
Ketika seseorang sudah mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan untuk membesarkan bisnis, maka akan sangat mudah baginya untuk membesarkan bisnisnya.
Melawan Arus Besar
Mungkin, pemikiran “Jadi, Anda Ingin Menjadi Pengusaha” melawan arus besar saat ini, yang meminta seseorang yang baru lulus sekolah, untuk langsung menjadi pengusaha.
Tetapi konsep yang Anda dengar ini, adalah sebuah konsep yang perlu Anda renungkan sejenak.
See you at the top!
John Rusly
www.johnyrusly.com
www.kursusbisnis.com
Follow me @johnyrusly (twitter) .
PS-1: Mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang terjadi pada seseorang yang sudah terlanjur nyemplung menjadi pengusaha? Bekerja pada orang lain adalah sebuah modal, dan bukan satu-satunya cara sukses menjadi pengusaha sukses. Masih ada beberapa cara, seperti yang dilakukan pak Roni Yuzirman, pak Teguh Wibawanto, pak Irwanto dan lain-lain. Kita bicarakan pada kesempatan lain ya …
PS-2: Buku JAIMP (terbit bulan ini) masuk ke recommended List Gramedia untuk bulan Maret. Sementara kita bertemu pada acara bedah buku, kita akan kupas tuntas pertanyaan-pertanyaan Anda …
Johny Rusly adalah seorang Pengusaha, Coach dan Trainer untuk topik Entrepreneurship, pengarang buku JAIMP – Jadi, Anda Ingin Menjadi Pengusaha (Elex Media)