Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika itu film tentang kiamat 2012 sedang ramai dibicarakan.

Anakku, saat pulang sekolah, dengan mimik serius, bertanya kepadaku.
“Pa, benarkah tahun 2012 dunia akan kiamat?”
“Kata siapa?”
“Kata teman-teman di kelas. Tahun 2012 akan kiamat. Noterdame (yang dimaksud ad
alah Notradasmus) sudah meramalkannya, lalu kita bagaimana?”
Anak-anak zaman sekarang memang beda. Dulu informasi terbatas. Kita sulit
“Dulu” saya menambahkan; “orang-orang juga meramalkan, bahwa dunia akan kiamat pada tahun 2000. Banyak kisah lucu tentang sikap-sikap orang yang ketakutan. Ada orang yang menjual rumah lalu membagi-bagikan hartanya, nyatanya, tidak terjadi apa-apa.” tahu tentang berita dan keadaan di luar sana. Sekarang, perkembangan teknologi begitu maju, segala berita,termasuk berita yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, gampang diakses oleh anak-anak.
“Tetapi, kalau benar-benar kiamat bagaimana?” Anak saya kembali bertanya. Wajahnya menunjukan rasa ingin tahu.
“Kalau benar-benar kiamat, ya sudah. Mau apa lagi? Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah. Kiamat itu diluar kendali kita. Takutpun kita tidak dapat merubah keadaan apapun. Jadi, untuk apa kuatir, untuk apa takut ?”
Saya menambahkan,
“Tuhan selalu menjaga orang baik. Maka dari itu, sangat penting untuk tetap menjadi orang baik.”
“Selain itu, yang terpenting saat ini adalah tetaplah berbuat kebaikan, menikmati yang bisa dinikmati, mensyukuri yang kita miliki, dan tetap menjalankan kehidupan kita, sebagaimana mestinya kehidupan itu berjalan. Untuk apa pusing dengan hal yang tidak pasti dan belum tentu terjadi?”
Salam,
Johny Rusly
Teriring salam hangat untuk anak-ku.
Jakarta, awal 2009 …